Payakumbuh,liputansumbar.com-Diduga melakukan penghinaan dan ujaran kebencian terhadap profesi Dokter dan Perawat, dengan mengajak masyarakat untuk menolak pemakaman Dokter dan Perawat yang terkena wabah Corona melalui media Social, salah seorang warga Kabupaten Limapuluh Kota, diciduk Polres Payakumbuh.

Tersangka Desmaizar panggilan Ade (41), alamat Jorong Indo Baleh Timur, Nagari Mungo, Kecamatan Luhak, Kabupaten Lima Puluh Kota yang sehari-harinya bekerja sebagai Pedagang, diduga melakukan tindak pidana UU ITE terkait penyebaran informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan/pencemaran nama baik dan menimbulkan ujaran kebencian atau permusuhan individu atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas SARA, dan terancam Pasal 45A Ayat 2 jo Pasal 28 Ayat (2) Atau Pasal 45 Ayat 3 Jo Pasal 27 Ayat 3 , UU ITE No 19 tahun 2016 tentang Perubahan Undang-Undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Dengan Ancaman Pidana Penjara Paling Lama 6 Tahun Dan Atau Denda paling banyak 1 Miliyar Rupiah.

loading...

Hal itu disampaikan Kapolres Payakumbuh AKBP Dony Setiawan,S.IK,MH dalam siaran pers yang dirilisnya Rabu, 15 April 2020.

Dijelaskan Kapolres AKBP Dony Setiawan, bahwa penangkapan tersangka berawal dari laporan Ikatan Dokter Indonesia Kota Payakumbuh dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Payakumbuh

Sementara kronologi kejadian, dijelaskan Kapolres, pada Minggu tanggal 12 April 2020 sekira pukul 16.00 WIB pelapor mendapat kiriman foto screenshot atas percakapan di medsos Facebook berupa tulisan dan komentar yang berisi tentang penghinaan dan ujaran kebencian terhadap profesi Dokter dan Perawat dalam situasi Wabah Covid-19 dengan tulisan “Semoga makin bnyk Dokter dan Perawat jadi korban Corona ko,, dan smkin bnyk urg yg menolak untuak dmakam kan di bumi alloh ko,,sbb ksombongan itu pkaian setan,, bukan pkaian manusia,,,jadi kalau setan tu mati,,ndk Ado hak nyo bkubua d bumi Allah ko doh,,” (Semoga makin banyak Dokter dan Perawat jadi korban Corona ini,, dan semakin banyak orang yang menolak untuk dimakamkan di bumi Allah ini,,sebab kesombongan itu pakaian setan,, bukan pakaian manusia,,,jadi kalau setan tu mati,,tidak Ada haknya berkubur di bumi Allah ini – red).

“Postingan ini kemudian viral di group facebook “info kesehatan masyarakat”, dengan 6,6 ribu komentar dan 3,4 ribu kali dibagikan. Tersangka memposting ujaran kebencian tersebut menggunakan akun facebook istrinya dengan nama akun : nola.bundanyaasraf,” jelas Dony.

Ditambahkan AKBP Dony, setelah postingan tersebut viral, tersangka sempat ke Polsek Luhak Polres Payakumbuh dan berusaha mengelabui petugas Polsek untuk memberikan laporan palsu dengan dalih bahwa akun facebook istrinya yang digunakan untuk memposting ujaran kebencian tersebut telah dihack orang lain, lalu berfoto di Polsek Luhak dan memposting fotonya di Polsek Luhak dengan keterangan “lagi d Polsek, mlaporkan bhwa fb istri saya dbajak,, dan saya slaku kluarga(suami) mhon kpada tman fb smua untuk mmaklumi atas kjdian yg mnimpa istri saya, krna itu bukan istri saya yang komentar, tp justru pihak yang tidak bertanggung jawab, trimakasih”.

Selanjutnya, diungkapkan Kapolres, tersangka kemudian ditangkap Senin, 13 April 2020 sekira pukul 17.00 WIB, di Jorong Indo Baleh Timur, Nagari Mungo, Kecamatan Luhak, Kabupaten Lima Puluh Kota dan kepada petuga, tersangka mengakui perbuatannya menggunakan akun facebook istrinya untuk memposting ujaran kebencian itu.

Bersama tersangka diamankan barang bukti berupa satu unit HP merk Vivo Y 53 warna gold, satu buah screnshoot postingan akun facebook atas nama”nola.bundanyaasraf”, dan akun facebook beserta email “nola.bundanyaasraf”.

“Tersangka Desmaizar melakukan hal tersebut dengan alasan pernah mendapatkan pelayanan medis yang kurang baik di salah satu Rumah Sakit di Kabupaten Lima Puluh Kota,” ungkap Kapolres Dony.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here