Parade Onthel Payakumbuh 2025: Kota Kecil yang Hidupkan Kembali Romantika Masa Lalu

- Jurnalis

Minggu, 9 November 2025 - 19:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Payakumbuh,liputansumbar.com

Akhir pekan di Kota Payakumbuh terasa istimewa. Suara bel sepeda tua menggema di sepanjang jalan, membawa suasana nostalgia yang menawan. Ratusan pesepeda onthel berbusana tempo dulu melintasi kampung adat, rumah gadang, taman kota, hingga ikon wisata unggulan dalam Parade Onthel Payakumbuh 2025, perayaan dua hari yang menghidupkan kembali nuansa klasik di tengah modernisasi kota.

“Parade Onthel bukan sekadar olahraga atau nostalgia, tapi cara kita memperkenalkan Payakumbuh sebagai kota yang kaya budaya, ramah wisata, dan kuliner lezat,” ujar Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta, Minggu (9/11/2025).

Selama dua hari, 8–9 November 2025, sekitar 500 ontelis dari berbagai daerah di Indonesia — mulai dari Padang, Bukittinggi, Lampung, Jambi, Palembang, hingga Sidoarjo — ikut ambil bagian. Mereka datang dengan sepeda berusia puluhan tahun, lengkap dengan busana jadul seperti jas safari, kebaya, dan seragam pejuang. Kota Payakumbuh pun berubah menjadi panggung wisata bernuansa sejarah.

“Konsepnya menghadirkan pengalaman wisata yang berbeda. Kita ingin orang datang ke Payakumbuh bukan hanya melihat, tapi juga merasakan suasana masa lalu yang hidup kembali,” kata Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Yunida Fatwa, ketua pelaksana kegiatan.


Parade dimulai dari GOR M. Yamin yang disulap menjadi Pasa Lamo, lalu melintasi Kampung Adat Balai Kalikih, Masjid Gadang Balai Nan Duo, Tugu Onthel raksasa — ikon langka yang hanya ada dua di dunia — hingga Taman Batang Agam, ruang hijau kebanggaan warga.

Baca Juga :  Pemko Payakumbuh Gelar Forum Bisnis 2025, Pacu Investasi Pasca Torehan Rp 400 Miliar di 2024

Tak hanya parade, malam sebelumnya para peserta menikmati sajian seni tradisional dan kuliner lokal. Dari tarian Minang, musik saluang, rabab, hingga makanan tradisional yang mulai langka, semuanya dihadirkan dalam suasana klasik.

“Pesertanya kagum bisa mencicipi kuliner tradisional yang hampir punah. Ini jadi ajang promosi makanan lokal juga,” ujar Yunida.

Aroma masakan lokal memenuhi udara, sementara masyarakat tumpah ruah di sepanjang rute parade. Bagi Wakil Wali Kota Elzadaswarman, yang juga Ketua KOSTI Sumatera Barat, acara ini lebih dari sekadar nostalgia.

“Parade Onthel ini bukan hanya milik komunitas sepeda tua, tapi milik semua warga Payakumbuh. Insya Allah tahun depan kita gelar lagi, karena dampak ekonominya terasa nyata,” ungkapnya.

Pemerintah Kota menilai kegiatan ini sebagai model pengembangan wisata budaya berkelanjutan. Kunjungan peserta dari luar daerah meningkatkan tingkat hunian penginapan, penjualan kuliner, hingga omzet pedagang.

“Dampak ekonominya langsung terasa. Dari pedagang makanan, pengrajin, hingga tukang foto keliling, semua ikut merasakan manfaatnya,” tambah Yunida.

Baca Juga :  Tradisi Maanta Pabukoan, Pengamat: Event Budaya Harus Jadi Destinasi Wisata, Bukan Sekadar Seremonial

Wali Kota Zulmaeta menegaskan bahwa Parade Onthel menjadi bagian dari strategi membangun citra Payakumbuh sebagai kota kreatif dan ramah wisatawan.

“Melalui event budaya seperti ini, kita ingin wisatawan melihat bahwa Payakumbuh bukan hanya indah, tapi juga punya jiwa yang hidup,” katanya.

Kegiatan ini menambah daftar panjang festival kreatif yang sukses digelar di Payakumbuh. Setelah berbagai gelaran seni dan kuliner, Parade Onthel membuktikan bahwa komunitas lokal juga mampu menjadi magnet wisata tanpa promosi besar-besaran.

“Orang datang karena rasa ingin tahu, tapi pulang dengan membawa kesan tentang keramahan dan budaya Payakumbuh,” ujar Elzadaswarman.

Menjelang siang, para ontelis menutup kegiatan di Pasa Lamo GOR M. Yamin dengan semangat penuh kebersamaan.

Parade Onthel Payakumbuh 2025 bukan sekadar perayaan sepeda tua — tapi simbol bahwa di tengah gempuran modernitas, tradisi dan nilai-nilai lokal tetap bisa menjadi daya tarik wisata paling tulus dan berkesan.

“Pariwisata tak selalu harus glamor. Cukup dengan sepeda tua, senyum warga, dan suasana tempo dulu, sebuah kota bisa menjadi destinasi yang tak terlupakan,” pungkas Wako Zulmaeta.(ws)

Berita Terkait

Pemko Payakumbuh Tegaskan Pasar Blok Barat Aset Daerah, Pedagang Berstatus Penyewa
Payakumbuh Siagakan 350 Personel dan Ratusan Peralatan Hadapi Bencana dan Gangguan Kamtibmas
PPPK Payakumbuh Diminta Pegang Empat Pilar: Prestasi, Dedikasi, Loyalitas dan Tidak Tercela
Pemko Payakumbuh Matangkan Rencana Pembangunan Pasar Ibuh Blok Barat
Wali Kota Payakumbuh Salurkan Bantuan CPP
Pemko dan DPRD Payakumbuh Sepakati Perubahan APBD 2026
Wako Zulmaeta Tegaskan PPPK Jangan Sekadar Bekerja
Wako Zulmaeta Apresiasi Dedikasi Kader PKK Payakumbuh
Berita ini 261 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 15:37 WIB

Pemko Payakumbuh Tegaskan Pasar Blok Barat Aset Daerah, Pedagang Berstatus Penyewa

Senin, 7 September 2026 - 15:24 WIB

Payakumbuh Siagakan 350 Personel dan Ratusan Peralatan Hadapi Bencana dan Gangguan Kamtibmas

Senin, 7 September 2026 - 15:13 WIB

PPPK Payakumbuh Diminta Pegang Empat Pilar: Prestasi, Dedikasi, Loyalitas dan Tidak Tercela

Jumat, 4 September 2026 - 15:06 WIB

Pemko Payakumbuh Matangkan Rencana Pembangunan Pasar Ibuh Blok Barat

Jumat, 4 September 2026 - 14:57 WIB

Wali Kota Payakumbuh Salurkan Bantuan CPP

Berita Terbaru

Payakumbuh

Wali Kota Payakumbuh Salurkan Bantuan CPP

Jumat, 4 Sep 2026 - 14:57 WIB