Payakumbuh,liputansumbar.com
Sebanyak 125 personel dari berbagai instansi dan relawan kebencanaan di Kota Payakumbuh mengikuti Apel dan Gladi Kesiapsiagaan Bencana dalam rangka peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN), yang digelar di kawasan samping Jembatan Surabaya, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Batang Agam, Ahad (26/4/2026).
Wali Kota Payakumbuh, Zulmaeta melalui Wakil Wali Kota Elzadaswarman menegaskan bahwa kesiapsiagaan merupakan faktor krusial dalam menghadapi bencana.
“Kesiapsiagaan bukan sekadar slogan. Ini upaya antisipasi dan respons efektif yang harus dibangun sejak dini. Detik-detik awal saat bencana datang adalah penentu antara hidup dan mati,” ujar Elzadaswarman saat memimpin apel.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia. Berdasarkan The World Risk Report 2023, Indonesia menempati posisi kedua dari 193 negara dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana.
Menurutnya, Kota Payakumbuh termasuk daerah yang rawan terhadap bencana hidrometeorologi seperti cuaca ekstrem, banjir, dan angin puting beliung. Oleh karena itu, kegiatan gladi ini difokuskan untuk menguji tiga aspek utama, yakni ketangkasan personel, kesiapan peralatan, dan koordinasi lintas instansi.
“Ketajaman insting dan kecepatan koordinasi Saudara akan menjadi tumpuan keselamatan warga Payakumbuh,” tegasnya.
Elzadaswarman juga mengimbau masyarakat untuk tidak sepenuhnya bergantung kepada pemerintah dalam hal kesiapsiagaan bencana. Ia menekankan pentingnya setiap keluarga memiliki rencana evakuasi mandiri sebagai langkah awal penyelamatan.
Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut tidak hanya bersifat seremonial. Setelah apel, peserta langsung mengikuti simulasi penanganan darurat yang melibatkan berbagai kendaraan operasional, mulai dari ambulans milik Dinas Kesehatan, motor trail dan armada damkar dari Satpol PP dan Damkar, hingga motor patroli dari Dinas Perhubungan.
Sebanyak 19 unsur terlibat dalam kegiatan ini, di antaranya BASARNAS, Palang Merah Indonesia, ORARI, RAPI, serta TAGANA dari Dinas Sosial. Selain itu, turut hadir Pramuka dan Koordinator Kampung Siaga Bencana (KSB) dari lima kecamatan di Payakumbuh.
Peserta terbanyak berasal dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Payakumbuh sebanyak 33 orang, disusul TAGANA 17 orang, Satpol PP dan Damkar 10 orang, serta Pramuka 10 orang.
Seluruh peserta diwajibkan mengenakan pakaian dinas lapangan (PDL) atau atribut sesuai ketentuan, seperti kaus oranye bagi anggota KSB.
Diketahui, pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana menetapkan tanggal 26 April sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional, merujuk pada disahkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang menjadi landasan sistem penanggulangan bencana di Tanah Air.
(ws)








