Pemko Payakumbuh Lestarikan Tradisi Mauluan Bogheh, Perkuat Jati Diri Budaya Minangkabau

- Jurnalis

Senin, 3 Agustus 2026 - 07:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Payakumbuh,liputansumbar.com

Pemerintah Kota Payakumbuh terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian adat dan budaya Minangkabau melalui kegiatan Mambangkik Tradisi Adat Salingka Nagari. Kali ini, tradisi yang diangkat adalah Mauluan Bogheh di Kanagarian Aua Kuniang, yang digelar di halaman Balai Adat Nagari Aua Kuniang, Ahad (2/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Payakumbuh dalam melestarikan kearifan lokal sekaligus memperkuat karakter generasi muda di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan zaman.

Wali Kota Payakumbuh, Zulmaeta, melalui Wakil Wali Kota Elzadaswarman, menegaskan bahwa adat dan tradisi merupakan identitas masyarakat Minangkabau yang harus dijaga bersama oleh seluruh elemen masyarakat.

“Pelestarian adat dan tradisi merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat. Payakumbuh memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perkembangan peradaban Minangkabau sehingga nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur harus tetap kita jaga,” ujar Elzadaswarman.

Ia menjelaskan, falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK) tetap menjadi landasan utama kehidupan masyarakat Minangkabau dan relevan sebagai pedoman dalam menghadapi tantangan zaman modern.

Menurutnya, Pemerintah Kota Payakumbuh melalui Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora), khususnya Bidang Kebudayaan, terus memfasilitasi berbagai kegiatan penguatan adat di setiap kanagarian sebagai bentuk pelestarian warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Baca Juga :  Tak Puas dengan Vonis, JPU Kejari Payakumbuh Ajukan Banding,Bos AWI Diduga Dalang Rokok Ilegal masih Berkeliaran

“Penguatan adat dan tradisi merupakan investasi sosial untuk menjaga jati diri masyarakat sekaligus memastikan kearifan lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman,” katanya.

Pria yang akrab disapa Om Zet itu juga menuturkan bahwa program Mambangkik Tradisi Adat Salingka Nagari melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari niniak mamak, bundo kanduang, rang mudo hingga puti bungsu.

Keterlibatan lintas generasi tersebut dinilai penting agar nilai-nilai adat, budaya, dan kearifan lokal dapat terus diwariskan kepada generasi muda.

“Pelestarian adat di setiap kanagarian merupakan salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketahanan budaya sekaligus menjadi benteng dalam menghadapi pengaruh negatif globalisasi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kemajuan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik semata, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam mempertahankan dan mengamalkan adat serta tradisi yang menjadi identitas daerah.

“Kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisiknya, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan dan mengamalkan adat serta tradisi yang dimiliki,” tegasnya.

Baca Juga :  Dua Pengedar Sabu Diringkus dijalan Raya Disaksikan Warga.

Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kota Payakumbuh juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan, di antaranya Disparpora Kota Payakumbuh, Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kota Payakumbuh, Bundo Kanduang, Kerapatan Adat Nagari (KAN), serta para rang mudo dan puti bungsu.

Sementara itu, Ketua KAN Aua Kuniang, B. Dt. Paduko Marajo, menjelaskan bahwa Mauluan Bogheh atau Mahantaan Marapulai merupakan prosesi adat yang dilaksanakan setelah akad nikah dalam rangkaian pesta pernikahan di pihak mempelai perempuan.

Menurutnya, prosesi tersebut melambangkan kebersamaan keluarga besar dalam mengantarkan mempelai laki-laki menuju rumah anak daro sebagai simbol restu, penghormatan, dan penguatan tali silaturahmi antara kedua keluarga.

“Tradisi Mauluan Bogheh mengandung makna bahwa marapulai tidak datang sendiri, melainkan diantarkan oleh keluarga besarnya sebagai simbol doa, restu, dan kebersamaan dalam membangun rumah tangga yang baru,” pungkasnya.

Dengan terus dihidupkannya tradisi-tradisi adat seperti Mauluan Bogheh, Pemerintah Kota Payakumbuh berharap nilai-nilai budaya Minangkabau tetap lestari, menjadi pedoman kehidupan masyarakat, serta mampu diwariskan kepada generasi penerus sebagai bagian dari identitas daerah yang tidak lekang oleh waktu.(ws)

Berita Terkait

Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila Disiapkan Jadi Penggerak Nilai Kebangsaan di Payakumbuh
Wako Zulmaeta Dukung KONI Payakumbuh, Target Posisi Terbaik Porprov Sumbar 2026
Pemko Payakumbuh Luncurkan GEMPITA BERSAMA, Dorong Pekarangan Jadi Sumber Pangan Keluarga
Sukses Digelar, Piala Wali Kota Payakumbuh 2026 Tuai Pujian, Masyarakat Harapkan Tribun Penonton dan Peningkatan Fasilitas Stadion
Tigo Kayo FC Juara Piala Wali Kota Payakumbuh 2026, Taklukkan Bimbel Galatama FC Lewat Drama Adu Penalti
Pemko Payakumbuh Matangkan Persiapan Indonesia’s Horse Racing Cup 2026
Wali Kota Payakumbuh dan Kapolres Irwan Andeta Perkuat Sinergi, ETLE Jadi Langkah Baru Wujudkan Kota Aman dan Tertib
Wakil Wali Kota Payakumbuh Ajak Siswa MTsN 1 Perkuat Iman, Cegah Bullying, dan Peduli Lingkungan
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 07:56 WIB

Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila Disiapkan Jadi Penggerak Nilai Kebangsaan di Payakumbuh

Kamis, 6 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Wako Zulmaeta Dukung KONI Payakumbuh, Target Posisi Terbaik Porprov Sumbar 2026

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:12 WIB

Pemko Payakumbuh Luncurkan GEMPITA BERSAMA, Dorong Pekarangan Jadi Sumber Pangan Keluarga

Selasa, 4 Agustus 2026 - 10:57 WIB

Sukses Digelar, Piala Wali Kota Payakumbuh 2026 Tuai Pujian, Masyarakat Harapkan Tribun Penonton dan Peningkatan Fasilitas Stadion

Selasa, 4 Agustus 2026 - 10:36 WIB

Tigo Kayo FC Juara Piala Wali Kota Payakumbuh 2026, Taklukkan Bimbel Galatama FC Lewat Drama Adu Penalti

Berita Terbaru