Payakumbuh,liputansumbar.com
Duka mendalam menyelimuti dunia sastra di Sumatera Barat, khususnya Kota Payakumbuh. Seorang penyair, penulis puisi, sekaligus tokoh literasi yang telah melahirkan banyak generasi penulis muda, Iyut Fitra, dikabarkan wafat pada usia 58 tahun.senin 27/-4-2026 dimakamkan 28/4-2026 bertepatan dengan Peringatan “Hari Puisi Nasional”.
Kepergian Iyut Fitra bukan sekadar kehilangan seorang individu, tetapi juga hilangnya satu denyut penting dalam ekosistem sastra lokal yang selama ini tumbuh perlahan namun penuh makna. Ia dikenal sebagai sosok yang tak hanya produktif dalam berkarya, tetapi juga konsisten membangun ruang kreatif bagi generasi muda melalui komunitas yang ia dirikan, yakni Komunitas Intro di Payakumbuh.
Sejak awal perjalanan kepenulisannya, Iyut Fitra telah menempatkan puisi sebagai medium perlawanan sekaligus perenungan. Kata-kata yang lahir dari tangannya tidak sekadar indah, tetapi juga sarat makna menggambarkan kegelisahan sosial, dinamika kehidupan, hingga refleksi batin yang dalam. Buku-buku puisinya menjadi saksi perjalanan panjang seorang penyair yang setia pada idealisme.
Lebih dari sekadar penulis, Iyut adalah seorang guru bagi banyak anak muda. Melalui Komunitas Intro, ia membuka ruang belajar, diskusi, dan eksplorasi kreativitas. Tak sedikit dari anak didiknya yang kemudian tumbuh menjadi penulis, bahkan sastrawan yang berprestasi di berbagai ajang. Di tangan Iyut, menulis bukan hanya keterampilan, tetapi juga jalan untuk memahami kehidupan.
Nama Iyut Fitra bahkan telah melampaui batas lokal. Karyanya dikenal hingga tingkat Asia Tenggara, memperkenalkan warna sastra Minangkabau ke panggung yang lebih luas. Ia menjadi salah satu wajah sastra dari Sumatera Barat yang membawa identitas budaya ke dalam karya-karya yang universal.
Kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang tak mudah tergantikan. Namun, warisan yang ia tinggalkan baik berupa karya tulis maupun generasi yang telah ia bina akan terus hidup dan menjadi api yang menjaga semangat literasi di Payakumbuh.
Di mata rekan-rekan dan muridnya, Iyut Fitra adalah sosok yang sederhana namun penuh dedikasi. Ia percaya bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk mengubah cara pandang, bahkan mengubah hidup seseorang.
Kini, Payakumbuh tak hanya kehilangan seorang penyair, tetapi juga seorang penjaga api literasi. Namun seperti puisi-puisi yang ia tulis, Iyut Fitra akan tetap hidup dalam ingatan, dalam karya, dan dalam setiap kalimat yang terus dituliskan oleh generasi penerusnya. (ws)








