Menakar Kinerja DPRD Payakumbuh: Antara Kursi Empuk, Kunker, dan Amanah yang Mulai Luntur

- Jurnalis

Senin, 10 November 2025 - 11:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI REDAKSI, liputansumbar.com
Sudah hampir 2 tahun masa kerja anggota DPRD Kota Payakumbuh berjalan, namun publik masih bertanya-tanya: apa sebenarnya capaian konkret para wakil rakyat itu untuk kota yang mereka wakili?

Hingga kini, denyut kinerja legislatif terasa samar. Aktivitas anggota dewan lebih sering terlihat dalam balutan agenda resmi — kunjungan kerja ke luar daerah, pembahasan anggaran yang tertutup, hingga acara seremonial yang berulang tanpa substansi. Sementara persoalan rakyat di akar rumput — dari infrastruktur, pengangguran, hingga penataan kota — tetap berjalan di tempat.

Padahal, fungsi DPRD bukan sekadar hadir di rapat paripurna dan mengesahkan anggaran. DPRD adalah representasi rakyat, pengawas jalannya pemerintahan, serta penggagas kebijakan yang berpihak pada kepentingan masyarakat. Namun di Payakumbuh, fungsi itu seolah mengecil di bawah bayang-bayang rutinitas birokratis.

Baca Juga :  Sekda Payakumbuh Dampingi TSR Sumbar Kunjungi Masjid Amaliyah Tiakar

Bukan rahasia lagi, sebagian anggota dewan menjadikan kunker sebagai simbol kerja — padahal, publik tahu hasilnya sering tak berbanding lurus dengan biaya dan waktu yang dihabiskan. Masyarakat semakin kritis; mereka menuntut transparansi, bukan laporan manis yang dibacakan di forum resmi.

Lebih ironis lagi, DPRD belum tampak agresif dalam menggagas Peraturan Daerah (Perda) yang menjawab kebutuhan lokal. Kota ini membutuhkan kebijakan berani: soal tata kelola UMKM, Infrastruktur, hingga penguatan ekonomi kreatif. Namun yang terdengar justru riuh rendah acara seremonial, bukan perdebatan ide di ruang sidang.

Baca Juga :  Tirta Sago Payakumbuh Melesat di Ajang Inovasi Geospasial BIG 2025

Redaksi menilai, kondisi ini menjadi alarm bagi lembaga legislatif. Rakyat tidak menunggu seremoni peresmian, melainkan kerja nyata dan keberanian politik untuk memperjuangkan kepentingan warga Payakumbuh.

DPRD perlu kembali ke jati dirinya: lembaga representatif, bukan simbol formalitas pemerintahan. Mereka harus turun ke lapangan, mendengar keluh kesah rakyat, dan menyuarakannya di forum resmi. Sebab tanpa itu, kursi empuk di gedung dewan hanyalah tempat nyaman tanpa makna perjuangan.

Kini publik menagih bukti. Tahun 2026 sudah di depan mata, dan waktu tak akan lama lagi sebelum rakyat menilai siapa yang benar-benar bekerja — dan siapa yang hanya hadir di foto kegiatan.(ws)

Berita Terkait

Wako Zulmaeta Tegaskan Sentra IKM Rendang Berinovasi dan Berkembang
Pemko Payakumbuh Jajaki Kerja Sama Pengembangan SDM dengan Universitas Islam Riau
Pemko Payakumbuh Gelar Posyandu Serentak, Perkuat Integrasi Enam Bidang SPM
125 Personel Ikuti Apel dan Gladi Kesiapsiagaan Bencana di Payakumbuh
Sumatera Barat Berduka,di “Hari Puisi Nasional” Payakumbuh Kehilangan Penyair Besar Iyut Fitra
Pemko Payakumbuh Tekankan Sinergi Pusat-Daerah pada Peringatan Hari Otonomi Daerah 2026
Ambisi Anak Muda di Panggung Organisasi, Heru Mufti Jadi Sorotan Publik Payakumbuh
Payakumbuh Dapat TKD Rp116 Miliar, Ini Prioritasnya
Berita ini 231 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 12:57 WIB

Wako Zulmaeta Tegaskan Sentra IKM Rendang Berinovasi dan Berkembang

Rabu, 29 April 2026 - 20:03 WIB

Pemko Payakumbuh Jajaki Kerja Sama Pengembangan SDM dengan Universitas Islam Riau

Rabu, 29 April 2026 - 13:29 WIB

Pemko Payakumbuh Gelar Posyandu Serentak, Perkuat Integrasi Enam Bidang SPM

Selasa, 28 April 2026 - 16:11 WIB

125 Personel Ikuti Apel dan Gladi Kesiapsiagaan Bencana di Payakumbuh

Selasa, 28 April 2026 - 09:25 WIB

Sumatera Barat Berduka,di “Hari Puisi Nasional” Payakumbuh Kehilangan Penyair Besar Iyut Fitra

Berita Terbaru